BAB 6
MASYARAKAT MULTIKULTURAL
I. PENGERTIAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL
a. Menurut J.S Furnivall
Masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat yang terdiri dari dua atau
lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama
lain dalam satu kesatuan politik
b. J. Nasikun
Masyarakat majemuk sejauh masyarakat tersebut secara structural memilki
sub-subkebudayaan yang bersifat diverse yang ditandai oleh kurang
berkembangnya system nilai yang disepakati oleh seluruh anggota
masyarakat dan juga system nilai dari kesatuan-kedsatuan social serta
sering munculnya konflik-konflik social
c. Menurut Van den Berg
Masyarakat multicultural memiliki karakteristik :
- Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang sering kali memiliki subkebudayaan yang berbeda satu sama lain
- Memiliki struktur social yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer
- Kurang mengembangkan consensus di antara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai social yang bersifat mendasar
- Relative sering terjadi konflik diantara kelompok yang ada
- Secara relative integrasi social tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan di bidang ekonomi
- Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain.
- Ciri-ciri masyarakat multicultural secara umum:
- Adanya pengakuan terhadap perbedaann & kompleksifitas kehidupan .
- Adanya perlakuan yan g sama terhadap semua komunitas baik yang mayoritas maupun minoritas .n
- Kesederajatan kedudukan dalam keaneragaman dan perbedaan secara individu / kelompok .n
- Penghargaan yan g tinggi terhadap HAM dan saling menghormati .n
- Adanya kebersamaan , kerjasama dan hidup berdampingann
- Jenis-jenis masyarakat multikultur/majemuk
1. Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang
Terdiri atas sejumlah komunitas atau kelompok etnik yang memiliki kekuatan kompetisi seimbang
2. Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan
Terdiri atas sejumlah komunitas atau kelompok etnik yang kekuatan kompetitifnya tidak seimbang
3. Masyarakat majemuk denganminoritas dominan
Kelompok minoritas memiliki kekuatan kompetitif di atas yang lain sehingga mendominasi politik dan ekonomi
4. Masyarakat majemuk dengan fragmentasi
Tidak ada satu kelompokpun mempunyai posisi politik atau ekonomi dominan
II. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA MASYARAKAT MULTIKULTURAL INDONESIA
1. Keadaan geografis
Terdiri dari 17 ribu pulau merupakan factor yang sangat besar
pengaruhnya terhadap terciptanya multicultural suku bangsa di Indonesia
2. Pengaruh kebudayaan asing
Karena terletak di jalur perlintasan menungkinakan penyebaran agama dan kebudayaan yang dibawa oleh para pedagang
3. Kondisi iklim yang berbeda
Perbedaan tempat tinggal, dipantai dan dipedalaman, perbedaan curah
hujan dan kesuburan menyebabkan masyarakat Indonesia berbeda.
- Integrasi masyarakat Indonesia dalam kesatuan wilayah Republik Indonesia dipicu oleh peristiwa:
- Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit telah mempersatukan suku
bangsa-suku bangsa Indonesia dalam kesatuan politis, ekonomis dan
social.
- Kekuasaan kolonialisme Belanda selama tiga setengah abad telah
menyatukan suku bangsa-suku bangsa di Indonesia dalam satu kesatuan
nasib dan cita-cita
- Selama pergerakan nasional, para pemuda Indonesia telah menolak menonjolkan isu kesukubangsaan dan melahirkan Sumpah Pemuda
- Proklamasi Kemerdekaan Indonesia RI 17 Agustus yang mendapat
dukungan dari semua suku bangsa di Indonesia yang mengalami nasib yang
sama di bawah penjajahan Belanda dan Jepang.
III. KEANEKARAGAMAN KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL DI INDONESIA
- Menurut Koentjaraningrat, klasifikasi keanekaragaman warna masyarakat dan kebudayaan di Indonesia adalah:
- Tipe Masyarakat berdasarkan system berkebun yang sangat sederhana
- Tipe masyarakat pedesaan dengan berdasarkan bercocok tanam di lading atau sawah
- Tipe masyarakat pedesaan dengan berdasarkan bercocok tanam di lading atau sawah dengan orientasi kota
- Tipe masyarakat pedesaan dengan berdasarkan bercocok tanam di sawah dengan padi sebagai tanaman pokoknya
- Tipe masyarakat perkotaan
- Tipe masyarakat metropolitan
- Pengelompokan dalam beberapa kelompok tertentu:
1. kelompok etnis
Bentuk kelompok yang menampilkan persamaan bahasa, adat kebiasaan,
wilayah, sejarah, sikap dan system politik serta telah mengembangkan
subkulturnya sendiri.
Kelompok etnis yang ada di Indonesia:
- Pulau Sumatra (suku Aceh, Minangkabau, Melayu, Bengkulu, Batak, Mentawai, Nias, Palembang, Lampungh)
- Pulau Kalimantan (suku Dayak, Banjar, Melayu)
- Pulau Jawa (suku Jawa, Sunda, Badui, Tengger, Betawi)
- Pulau Sulawesi (suku Minahasa, Sangir, Bolang Mangondo, Gorontalo, Toraja, Bugis, Makasar, Mandar)
- Pulau Bali (suku Bali Aga, orang Bali pendatang)
- Pulau Maluku (suku Ambon, Kei, Tual, Dobo, Morotai)
- Pulau Papua (suku Waigeo, Bantanta, Timika, Asmat, Dani, Kubu Anak dalam)
- Pulau Nusa Tenggara (suku Sasak, Dompu, Helong, Timor, Lio, Alor)
2. Kelompok keagamaan
Indonesia terdiri atas banyak pemeluk umat beragama.
3. Kelompok social berdasarkan stratifikasi social
Stratifikasi tidak hanya mendasarkan pada aspek ekonomi saja, tetapi
orang mulai berlomba menaikkan status social dengan pendidikan
IV. MASALAH YANG TIMBUL AKIBAT KEANEKARAGAMAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL
1. Kesenjangan Multidimensional
Terdapat kesenjangan hamper semua aspek kehidupan.
- Kesenjangan aspek kemasyarakatan
Mencakup penyelenggaraan organisasi social, system politik, dan system hokum
- Kesenjangan sosiografis antara pulau Jawa dan pulau-pulau di Indonesia
Kesenjangan dalam hal kepadatan penduduk, kemajuan pendidikan, dan
tingkat kemakmuran serta keterlibatan dalam komunikasi serta
telekomunikasi nasional maupun internasional
- Kesenjangan yang berkaitan dengan aspek materiil
Perkembangan industrialisasi yang terkonsentrasi di Pulau Jawa telah memperbesar kesenjangan Jawa dan luar Jawa.
- Kesenjangan antara mayoritas dan minoritas
- Kesenjangan antara pribumi dan non pribumi
- Kesenjangan antara penganut agama mayoritas dan penganut agama minoritas
- Kesenjangan antara kaya dan miskin
- Kesenjangan dalam bidang sosiokultural yang menyangkut struktur piramida kekuasaan
2. Konflik antaretnis dan antarpemeluk agama yang berbeda
Konflik antar suku bangsa adalah konflik antara kelompok suku bangsa
yang etrgolong pribumu dengan kelompok suku bangsa yang etrgolong
pendatang, yang diakibatkan oleh adanya perbuatan sejumlah warga
pendatang(oknum) yang bertindak sebagai preman dan criminal yang telah
mendominasi hamper keseluruhan bidang kehidupan dengan cara-cara
kekerasan dan terror
Dampak dari pendominasian kekerasan dan terror:
- kemunculan kesadaran dan kemantapankesukubangsaan pada mereka yang
merasa ditidakadili dan yang menjadi tidak berdaya sebagai lawan dari
kesukubangsaan para preman dan orang-orang yang tergolong sebagai suku
bangsa preman
- Kemunculan dan kemantapan stereotif dan prasangka terhadap mereka
yang tergolong suku bangsa preman dan pelaku criminal yang didasari oleh
kebencian yang mendalam.
- Munculnya perlawanan secara perorangan dan kelompok-kelompok kecil dari masyarakat terhadap dominasi preman dan pelaku criminal.
V. Perkembangan Keanekargaman dalam Masyarakat
Interaksi yaitu berkumpulnya anggota kelompok yang berbeda dalam satu
kelompok sosial yang sama. Suatu kelompok social berdasarkan atas
persamaan daerah, suku bangsa, agama, ras, dan lapisan social sehingga
dapat disatukan menjadi sebuah kelompok social.
Dalam kelompok social itu terjadi persilangan ( interseksi ) maupun
konsolidasi, misalnya antara Klan dan suku bangsa. Keadaan demikian oleh
Peter M. Blau disebut sebagai intersected social structure dan
consolidated social structure.
A. Intersected social structure
Suatu struktur social dinamakan intersected apabila keanggotaan para
warga masyarakat dalam kelompok – kelompok social yang ada bersifat
silang – menyilang (interseksi). Sebuah kelompok terdiri dari berbagai
latar belakang suku, ras, agama, dll.
Keanggotaan para warga masyarakat dalam kelompok – kelompok social yang
saling menyilang ( intersected atau cross cutting affiliation ) akan
menimbulan terjadinya loyalitas yang juga silang – menyilang ( cross
cutting loyalities ).
Interseksi ( Persilangan ) Keanggotaan Warga Masyarakat dalam Kelompok-Kelompok Sosial :
Interaksi merupakan gambaran tentang terjadinya persilangan keanggotaan
warga masyarakat dalam kelompok social tertentu, hal ini terjadi akibat
adanya sifat keterbukaan dalam system pelapisan social dan diferensiasi
social yang ada dalam masyarakat.
Contohnya adalah orang dari suku Jawa, Madura, Sunda yang masuk menjadi
anggota partai A sehingga tergolong pada masyarakat yang berpartisipasi
palitik di partai A.
Cross cutting affiliations yang melahirkan cross cutting loyality,
selain dapat meredakan konfllik juga dapat digunakan sebagai penyeimbang
untuk mencegah terjadinya konflik yang tajam di antara suku – suku
bangsa.
Jadi, konsekuensi perubahan interseksi terhadap diferensial adalah
perubahan yang mengarah pada kemajuan dalam segala aspek kehidupan
dengan maksud mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa yang lebih ber-
Bhineka Tunggal Ika.
- Proses persilangan antarkelompok masyarakat akan memberikan dampak sebagai berikut
- Melahirkan perasaan saling memiliki dan tanggung jawab
- Mengikat, terhadap tempat atau wadah keanggotaannya
- Tetap memilki loyalitas terhadap kelompok sosialnya
- Mengecek terjadinya konflik antarkelompok social tersebut
- Mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa
B. Consolidated social structure
Struktur social masyarakat disebut consolidated apabila terjadi tumpang
tindih parameter, sehingga terjadi penguatan identitas keanggotaan warga
masyarakat di dalam kelompok social. Sebuah kelompok social merupakan
wadah orang – orang yang stu ras, satu suku bangsa, atau satu agama
Konsolidasi Keanggotaan Warga Masyarakat dalam Kelompok Sosial
Kata konsolidasi berasal dari bahsa latin consolidation, yang artinya
penguatan. Konsolidasi adalah gambaran tentang terjadinya proses
memperkuat hubungan, persatuan, atau tumpang tindihnya keanggotaan warga
masyarakat dalam kelompok – kelompok social tertentu akibat adanya
sifat keterbukaan dalam system deferensiasi.
Proses Interaksi dan Konsolidasi Keanggotaan Warga Masyarakat dalam Kelompok Sosial :
Proses kehidupan bermasyarakat mulai dari adanya kelompok yang paling
kecil yang disebut keluarga. Dari keluarga tersebut auatu kelompok yang
disebut Klan. Klan adalah kelompok kekerabatan yang menyusun hubungan
melalui keturunan ayah ( patrilineal ) dan garis keturunan ibu (
matrilineal ) yang menunjukkan adanya integrasi social, seperti kesatuan
wilayah, adapt istiadat, hak – hak istimewa. Contohnya adalah
perkawinan wanita dari Bali denagn seorang laki – laki dari suku Jawa.
Kemudian dalam upacara perkawinan tersebut menggunakan upacara adat dari
kedua suku tersebut, sehingga terwujud keserasian dan keharmonisan.
Konsekuensi Konsolidasi dalam Masyarakat Multikultural
Di dalam masyarakat Indonesia konsolidasi atau konsolidasi atau tumpang
tindih keanggotaan dapat dilihat seperti contoh di bawah ini.
Orang Bali identik dengan Hindu, orang melayu identik dengan orang
Islam, dan orang Minahasa identik dengan Kristen Protestan. Akibat
adanya tumpang tindih ( konsolidasi ) keanggotaan ini anggota masyarakat
dapat digolongkan menurut suku bangsa sekaligus juga dapat digolongkan
menurut agama
Dari contoh diatas, terlihat bahwa terjadi tumpang tindih parameter
sehingga terjadi penguatan identitas keanggotaan warga masyarakat di
dalam kelompok social. Adanya kelompok social yang berusaha
mempertahankan identitas dirinya seperti suku bangsa dan agama ini
dinamakan primoordialisme.
Primordialisme yang terbentuk ini dapat berdampa positif dan negative.
Apabila primordialisme itu diarahkan untuk memelihara kekerabatan serta
budaya daerah dalam menunjang persatuan bangsa dan terpeliharanya
kebudayaan nasional bangsa maka primordialisme dikatakan berdampak
positif.
Primordialisme juga dapat bersifat negative jika primordialisme
melahirkan sikap rasialisme, sukuisme, dan primordialisme ekstrimisme
sehingga akan mengganggu dan memudarkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Adanya primordialisme sebagaimana diuraikan diatas, juga mendorong
lahirnya berbagai organisasi social politik, diantaranya adalah Partai
Nasional Indoneaia ( PNI ), Majelis Syura Muslim Indonesia ( Masyumi ).
Di samping itu ada pula organisasi – organisasi lainnya yang bersifat
kedaerahan, antara lain Jong Java, Jong Sumatera Bond, dll.
Jadi dapat disimpulkan bahwa konsekwensi perubahan konsolidasi
terhadap diferensiasi social pada masa lalu hanya sekedar untuk mengikat
persatuan bagi kepentingan kelompok atau kepentingan tertentu.
Sedangkan masa sekarang konsolidasi mengikat persatuan untuk kepentingan
yang lebih besar, yaitu kepentingan bangsa dan Negara di segala bidang.
VI. Masalah Perkembangan Kelompok Sosial
1. Primordialisme
Primordialisme adalah paham atau ide dari anggota masyarakat yang
mempunyai kecenderungan untuk berkelompok sehingga terbentuklah suku –
suku bangsa.
Latar belakang timbulnya primordialisme antara lain sebagai berikut
Adanya sesuatu yang dianggap istimewa pada ras, suku bangsa, daerah asal, dan agama.
Ingin mempertahankan keunggulan kelompok atau komunitas dari ancaman luar.
Adanya nilai – nilai yang dijunjung tinggi karena keterkaitann dengan
system keyakinan, misalnya nilai keagamaan dan falsafah hidup di
dalamnya.
- Dampak negative dari primordialisme antara lain
- Menghambat hubungan antarbangsa
- Menghambat proses asimilasi dan integrasi
- Mengurangi bahkan menghilangkan objektivitas ilmu pengetahuan.
- Penyebab terjadinya diskriminasi ( perbedaan secara sengaja
terhadap) golongan tertentu yang didasarkan pada ras, agama, mayoritas,
dan minoritas masyarakat ).
- Merupakan kekuatan terpendam ( potensi ) terjadinya konflik antara suku suku bangsa.
- Sedangkan dampak sisi positif primordialiisme antara lain sebagai berikut
- Meneguhkan cinta tanah air
- Mempertinggi kesetiaan terhadap bangsa
- Mempertinggi semangat patriotisme
- Menjaga keutuhan dan kestabilan budaya
2. Etnosentris
Etnosentris adalah sikap menilai unsur – unsur kebudayaan lain dengan
menggunakan kebudayaan sendiri. Dapat diartikan pula sebagai sikap yang
menganggap cara hidup bangsa merupakan cara hidup yang paling baik.
- Dampak negatifyang lebih luas dari sikap etnosentris lainnya, yaitu :
• Mengurangi keobjektifan ilmu pengetahuaan
• Menghammbat pertukaran budaya
• Menghambat proses asimilasi kelompok yang berbeda
• Memicu timbulnya konflik social
Bukti adanya sikap Etnosentris adalah hamper setiap individu merasa
bahwa kebudayaan yang paling baik dan lebih tinggi dibandingkan dengan
kebudayaan lainnya. Misalnya, sebagai berikut :
Bangsa Amerika angga akan kekayaan materinya.
Bangsa Prancis bangga akan bahasanya
Bnagsa Italy bangga akan musiknya
3. Pengertian aliran politik
Politik aliran berasal dari kata pliyik dan aliran, politik artinya
segala urisan dan tindakan ( kebijakan dan siasat ) mengenai
pemerintahan Negara. Sedangkan aliran, artinya haluan, pendapat, paham
politik, dan pandangan hidup.
Jadi politik aliran adalah sebagai suatu kebijakan atau siasat yang
dijadikan haluan, paham politik, atau pandangan hidup oleh suatu orang
atau kelompok masyarakat.
Proses Perkembangan Politik Aliran
Perkembangan kehidupan politik (system politik) sebagai konsekuensi
adanya kehidupan masyarakat yang majemuk (diferensiasi social) dan
pelapisan social (stratifikasi social) disamping proses–proses social
yang lain.
Perkembangan Politik Aliran di Indonesia
Adanya politik aliran pada masa lalu yang bersifat primordial antara
lain terlihat seperti, adanya Partai Nasonal Indonesia ( PNI ),
Persatuan Rakyat Marheni Indonesia ( PERMAI ), Partai Buruh Indonesia (
PBI ), dll.